Tampilkan postingan dengan label bakteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bakteri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Januari 2011

Ilmuwan Ciptakan Pembungkus Makanan Dari Bakteri

pembungkus-makanan-dari-bakteri
Inilah salah satu temuan para ilmuwan yang berguna dalam bidang industri pengolahan makanan. Ilmuwan berhasil menciptakan teknik pelapis kertas yang menggunakan nano partikel berbahan perak. Hasil temuan ini merupakan kombinasi yang berasal dari berbagai bakteri kertas yang cocok digunakan sebagai bahan pembungkus pada makanan agar makanan tidak cepat rusak.

Bahan perak sebelumnya banyak digunakan untuk melawan bakteri dan nanopartikel. Perak sudah sering digunakan dalam industri tekstil, serat, plastik dan logam nuntuk aplikasi biomedis. Teknologi ini digunakan untuk melapisi luka dan kateter tahan mikroba. Materi ini juga dapat dipakai sebagai bahan penghilang bau pada kaos kaki.

Awalnya, ilmuwan belum mampu mengumpulkan partikel perak yang setara satu per 50 ribu ketipisan rambut manusia, dalam sebuah lapisan kertas biasa. Namun, materi terbaru yang menggunakan ultrasound atau gelombang suara berfrekuensi tinggi, mampu menahan partikel itu di dalam kertas. Teknik yang diperkenalkan tim ilmuwan yang dipimpin Aharon Gedanken dari Bar-Ilan University, Israel, ini dipublikasikan di jurnal Langmur yang diterbitkan American Chemical Society.

Dalam uji coba laboratorium, lapisan yang disebut sebagai kertas pembunuh ini berhasil mengumpulkan aktivitas bakteri yang mampu melawan E. Coli dan S. Aureus, dua unsur penyebab keberadaan bakteri makanan. "Aplikasi menakjubkan ini menunjukkan kemampuan untuk kemasan bahan makanan yang berlangsung lama di rak," tulis ilmuwan.

Jika ini benar dimanfaatkan, produk makanan akan dilapisi kertas berisi nanopartikel perak yang terdiri dari berbagai bakteri yang mampu menahan bakteri perusak kualitas makanan. Selain kemasan makanan, metode pelapis itu dapat digunakan untuk membuat properti tahan air.

Ternayata teknologi saat ii sudah sedemikian maju, sehingga pembugkus makanan juga harus dilapisi berbagai bakteri untuk melawan bakteri yang akan membusukan makanan tersebut.

Sabtu, 16 Oktober 2010

Hati-hati, Minuman Soda Di Restoran Cepat Saji Banyak Mengandung Bakteri


Bagi anda yang gemar membeli makanan dan minuman bersoda pada restoran cepat saji atau fast food sebaiknya mulai sekarang sedikit berfikir ulang. Karena ada indikasi bahwa minuman soda pada restoran tersebut kemungkinan telah terkena bakteri yang banyak terdapat pada tinja.

Kali ini peneliti mengungkapkan fakta horor tentang minuman soda. Hampir 48 persen minuman soda yang berasal dari tempat-tempat fast food atau cepat saji mengandung bakteri yang banyak terdapat pada tinja.

Bakteri tersebut awalnya berkembang dari kran minuman soda yang jarang dibersihkan. Bisa dibayangkan jika bakteri yang menempel pada kran minuman soda itu masuk dan berkembang dalam tubuh manusia. Alhasil, diare, sakit perut, keracunan dan penyakit pencernaan lainnya pun bisa mengancaman kesehatan.

Para ahli mikrobiologi dari Hollins University mengumumkan hasil penemuan tersebut dalam International Journal of Food Microbiology.

Mereka melaporkan bahwa bakteri coliform yang banyak terdapat dalam feses terdeteksi sebanyak 48 persen pada minuman soda dan hasil mikroskop menunjukkan jumlah bakterinya lebih besar dari 500 cfu/ml. Jumlah yang cukup untuk menyebabkan usus menghasilkan reaksi yang tidak nyaman.

Lebih dari 11 persen minuman soda yang dianalisa adalah bakteri coliform Escherichia coli (E. Coli) dan 17 persennya adalah Chryseobacterium meningosepticum. Beberapa bakteri patogen lainnya yang terdapat dalam minuman soda antara lain Klebsiella, Staphylococcus, Stenotrophomonas, Candida dan Serratia.

Fakta lainnya yang lebih mengejutkan adalah, hampir semua bakteri yang teridentifikasi tersebut menunjukkan resistensi atau kekebalan terhadap 11 jenis antibiotik yang diujikan peneliti.

Peneliti juga melaporkan peningkatan kasus penyakit 'gastric distress' atau penyakit gangguan pencernaan pada beberapa orang yang mengonsumsi minuman soda dari restoran cepat saji.

Meskipun beberapa tempat makan fast food sudah memiliki sertifikat aman dari perusahaan auditor atau penjamin kesehatan, namun banyak diantaranya yang tidak melakukan update sertifikasi selama beberapa tahun.

"Hal ini semakin meyakinkan bahwa mengonsumsi minuman soda tidak aman. Lebih banyak bahaya yang akan didapatkan daripada keuntungan mengonsumsinya," ujar seorang peneliti seperti dikutip dari Treehugger.

Jadi mulai sekarang kita harus memastikan bahwa makanan yang akan kita konsumsi benar-benar sehat, aman dan tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh kita.

Selasa, 24 Agustus 2010

Perancang Busana Dan Ilmuwan Ciptakan Kaos Dari Teh


Ada-ada saja temuan terbaru yang dihasilkan para ilmuwan dan perancang busana yang berasal dari limbah daun teh. Ilmuwan dan perancang busana berhasil mengembangkan kain baru berbahan seduhan teh hijau, gula dan nutrisi lain. Kain jenis baru itu disebut sebagai ‘kaos teh’.

Bahan itu memiliki tekstur kulit yang sangat ringan dan digunakan untuk membuat kaos, jaket bahkan sepatu, seperti dilaporkan Telegraph.

Bakteri yang ditambahkan ke dalam teh hijau dan gula akan menghasilkan filamen selulosa panjang yang menggumpal bersama, dan membentuk tatakan tipis dari kain yang mengambang di atas campuran itu.

Setelah mengering, tatakan tipis itu akan tampak mirip seperti papirus. Bahan ini tidak bisa diwarnai dan dicelup untuk menghasilkan tekstur dan efek berbeda.

Ilmuwan Imperial College London bekerja sama dengan perancang busana Central Saint Martins College of Arts and Design di London, menciptakan kain ini untuk industri fesyen.

Paul Freemont, ahli biologi molekular Imperial College mengatakan,”Bakteri ini secara alami akan menghasilkan kain dari selulosa dan akan meletakkannya pada tatakan yang mengambang di permukaannya.”

“Campuran ini menghasilkan kain yang tidak rata dan kain acak di mana kami berusaha membuatnya konsisten. Saat bahan ini kering akan terasa seperti kulit dan kuat bahkan kalian tidak bisa merobeknya,” kata Freemont.

Selama beberapa minggu, kain-kain ini bersatu menjadi lapisan tipis, dan lembaran basah selulosa ini mengeras saat kering.

Proyek ini dipimpin oleh Suzanne Lee, peneliti senior dan perancang di Central Saint Martins of Art and Design yang telah menggunakan bahan ini untuk membuat kain. Lee mengatakan ide membuat kain ini datang setelah bertemu dengan ahli biologi beberapa tahun lalu.

Lee mengatakan,”Dia menjelaskan bahwa mikroorganisme dapat digunakan untuk memutar selulosa untuk menghasilkan bahan seperti tekstil.”

“Saya sadar hal ini dapat menjawab banyak isu yang berhubungan dengan fesyen kontemporer dengan memanfaatkan limbah,” tambahnya.

Jadi fungsi dari penemuan kain teh terbaru ini adalah untuk pemanfaatan limbah agar dapat menjadi bahan yang produktif dan memiliki nilai guna yang tinggi.

Senin, 16 Agustus 2010

Bakteri Di Danau Argentina Menjadi Petunjuk Mengungkap Awal Mula Kehidupan Di Bumi

Penemuan bakteri jenis baru ini sangat berguna sekali untuk mengungkap asal muasal kehidupan manusia maupun untuk pengembangan kehidupan manusia diluar planet bumi.

Seperti dikutip dari Yahoo News, para peneliti telah menemukan jutaan bakteri super yang berkembang di danau Diamante, danau yang berada di tengah kawah gunung berapi raksasa yang terletak di 15.400 kaki di atas permukaan laut. Habitat bakteri di danau ini mirip dengan kehidupan primitif bumi dimana belum ada organisme yang hidup dan bernafas.

Kondisi air danau ini mengandung arsenik tinggi dan alkaline sehingga memberikan penerangan pada kehidupan di luar Bumi. "Ini adalah ketertarikan ilmiah yang besar di mana berfungsi sebagai jendela untuk melihat ke masa lalu kita. Penemuan ini juga berfungsi sebagai ilmu astrobiologi untuk mengetahui kehidupan di planet lain," kata Maria Eugenia Farias, bagian dari tim yang menemukan bentuk-bentuk kehidupan di Danau Diamante awal tahun ini.

Jika bakteri dapat bertahan di danau ini, ujar Maria, teori tersebut juga bisa diterapkan di tempat lain seperti Mars. Perkiraan bahwa "extremophiles" telah ditemukan di bagian lain di dunia maka ini dapat mempunyai nilai komersial yang signifikan.

“Apa yang kita miliki saat ini merupakan bagian dari rangkaian kondisi ekstrim yang terkumpul dalam satu tempat. Ini yang membuat tempat tersebut paling unik di seluruh dunia,” kata Faras, ahli mikrobiologi di National Scientific and Technical Research Council di Tucuman.

Danau tersebut memiliki tingkat arsenik 20.000 kali lebih tinggi dibandingkan tingkat yang dianggap aman untuk minum air. Suhu danau juga sering di bawah titik beku. Air di danau Argentina tersebut sangat asin-lima kali lebih asin daripada air laut, sehingga es tidak pernah terbentuk.

Mutasi bakteri DNA yang dapat bertahan hidup di radiasi ultra-violet dan level oksigen rendah yang ditemukan pada ketinggian tersebut mampu menarik perhatian industri farmasi untuk mengembangkan produk tabir surya.

Penemuan bakteri ini bisa menjadi awal yag bagus untuk berbagai pengembangan teknologi yang berguna untuk kelanjutan hidup manusia dimasa yang akan datang.

Sabtu, 31 Juli 2010

Ilmuwan Ciptakan Kertas Anti Bakteri


Sekarang telah ada kertas jenis baru yang higienis. Para Ilmuwan menciptakan bentuk baru kertas antibakteri berbahaya. Kertas ini memiliki jangkauan mulai dari plester anti bakteri hingga kemasan makanan yang membuat makanan segar lebih lama dan menghalau bau sepatu.

Materi baru ini menjanjikan lembar karbon tertipis yang disebut graphene. Kertas jenis ini ditemukan ilmuwan Inggris pada 2004, menurut laporan jurnal ACS Nano seperti dikutip dari IANS.

Para ilmuwan menggunakan graphene pada sel surya, chip komputer dan sensor, menurut sebuah pernyataan dari American Chemical Society. Chunhai Fan dan Qing Huang dari Shanghai Institute of Applied Physics bersama kolega ingin melihat bagaimana graphene mempengaruhi sel hidup.

Mereka membuat lembaran kertas dari oksida graphene, lalu mencoba menumbuhkan bakteri dan meletakkan sel manusia di atasnya. Bakteri itu tidak bisa tumbuh dalam kertas dan hanya sedikit mempengaruhi sel manusia.

"Penemuan ini memberikan efek anti bakteri super dari oksida graphene, faktanya kertas ini dapat diproduksi secara massal. Karbon nanomateri baru ini menjadi penting bagi lingkungan dan peralatan klinik,” ujar Chunhai.

Jadi mulai sekarang kita tidak perlu khawatir jika akan terkena bakteri saat memegang kertas.

Rabu, 07 Juli 2010

Ternyata Bakteri Pun Berkomunikasi Sebelum Menyerang Tubuh Inangnya




Tahukah anda, bahwa sebelum melakukan serangan ke tubuh manusia bakteri akan melakukan percakapan dulu. Sekumpulan organisme kecil akan ngobrol terlebih dahulu menentukan target yang akan dimasukinya di luar atau dalam tubuh manusia.

Bakteri memiliki percakapan seperti bisik-bisik untuk menghitung jumlahnya sebelum mencoba melakukan serangan terhadap organisme tuan rumahnya. Mikroorganisme ini bisa berada di kulit atau dalam organ tubuh lainnya.

“Jika bakteri bekerja secara individu, maka dampak terhadap lingkungannya akan kecil. Karenanya bakteri selalu membentuk koloni sehingga bisa menimbulkan dampak tersendiri bagi tubuh,” ujar Bonnie Bassler, seorang profesor biologi molekuler dari Princeton University, seperti dikutip dari LiveScience,

Bakteri berkomunikasi dengan menggunakan bahan kimia, yaitu melepaskan molekul kecil ke dalam media di sekitarnya yang dapat dideteksi melalui reseptor pada permukaan sel bakteri lainnya.

Ketika sejumlah sinyal molekul ini tercapai, maka masing-masing individu dari bakteri ini sudah mengetahui bahwa teman-teman didekatnya sudah memulai suatu tindakan. Proses ini dikenal sebagai penginderaan quorum.

Penginderaan quorum ini digunakan oleh bakteri virulen (bakteri jahat) untuk menginfeksi inangnya, misalnya bakteri Vibrio cholerae,– yang menyebabkan penyakit kolera–, mengandalkan penginderaan quorum untuk mengkoordinasikan penyerangan ke tubuh inangnya. Selain itu komunikasi ini juga dilakukan mikroba lainnya untuk tindakan terkoordinasi yang lebih ramah.

Jenis penginderaan quorum yang dilakukan tiap bakteri kadang berbeda-beda, misalnya bakteri Vibrio fischeri menggunakan alat komunikasi berupa cahaya yang bisa dihasilkan oleh tubuhnya sendiri. Jika jumlahnya sudah memadai, maka bakteri ini akan berkumpul untuk membuat cahaya yang lebih terang.

“Dengan mengetahui bagaimana bakteri ini berkomunikasi, maka bisa membantu para ilmuwan untuk merancang jenis antibiotik baru. Obat-obatan ini diharapkan bisa menghalangi pelepasan sinyal molekul sehingga menghambat kemampuan bakteri untuk berbicara atau mendengar,” ungkap Bassler.

Dengan cara ini bakteri tidak akan pernah tahu apakah jumlahnya sudah cukup atau belum untuk melepaskan racun, sehingga infeksi bisa dihindari.

Minggu, 30 Agustus 2009

Cacing Yang di Perkirakan Dapat Hidup di Gunung Berapi

http://kompas.com/data/photo/2008/12/13/173902p.jpg


Siapa sangka cacing yang selama ini kita anggap hewan yang lemah ternyata ada yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Tidak hanya hidup di lumpur hangat yang ada di dasar laut, jenis cacing yang baru ditemukan ini juga memiliki “rambut api.” Tubuhnya tak hanya silinder memanjang umumnya cacing, melainkan di salah satu ujungnya terdapat banyak serabut berwarna merah yang bergerak bebas.

Karenanya pantas kalau cacing temuan Ana Hilario dari Universitas Averio Portugal itu akan dinamai Medusa, untuk mengingatkan pada makhluk berambut ular dalam mitologi Yunani. Hilario menemukannya di endapan lumpur vulkanik di Teluk Cadiz, Spanyol yang berada di bagian barat daya Samudera Atlantik.

Lumpur vulkanik yang muncul dari rekahan di dasar laut mengandung methan sehingga menyediakan sumber energi yang melimpah untuk membentuk komunitas kehidupan yang beragam. Dari kawasan tersebut, Hilario dan timnya menemukan 20 cacing namun hanya satu yang paling unik.

Cacing yang berukuran kecil tersebut diidentifikasi dalam kelompok yang disebut frenulate. Para ilmuwan belum banyak tahu mengenai cacing jenis ini. Salah satu rahasia alam yang telah diketahui bahwa di dalam tubuhnya terdapat organ khusus yang mengandung bakteri.

Bakteri tersebut membantu menghasilkan senyawa organik yang dibutuhkan cacing tersebut. Tubuh cacing menyerap zat kimia seperti methan melalui permukaan tubuhnya dan meneruskannya ke organ berisi bakteri untuk diolah. Ternyata cacing juga merupakan hewan yang sangat menakjubkan ya?