Tampilkan postingan dengan label radiasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label radiasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Agustus 2010

Radiasi Ponsel Sebabkan Gangguan Pada Navigasi Lebah

Kemajuan teknologi sangat berguna bagi manusia. Tapi hal itu juga memiliki dampak buruk yang harus kita waspadai. Inilah salah satu dari dampak buruk kemajuan teknologi yang ada sekarang. Para ilmuwan di Punjab University menemukan bahwa telepon seluler atau ponsel dapat menyebabkan perubahan pada perilaku lebah. Dan tak hanya itu, gadget canggih itu dikhawatirkan bisa mematikan sarang lebah.

Uji coba dilakukan dengan menghadirkan dua buah sarang. Kemudian ponsel ditaruh pada setiap sisi di salah satu sarang dan sarang lainnya bebas tanpa ponsel. Setelah itu, mereka melakukan panggilan di ponsel dua kali sehari selama 15 menit dalam tiga bulan.

Apa hasilnya? Lebah dalam sarang yang terkena radiasi ponsel mulai menunjukkan perubahan drastis dalam kegiatan mereka sehari-hari. Setiap kali ponsel berdering, sepertiga lebah menjadi bingung dan menghentikan pekerjaan mengumpulkan madu. Akhirnya lebah-lebah itu kembali dengan tangan kosong. Sementara sarang lain yang bebas ponsel, tidak menampilkan perilaku yang aneh.

Seperti dikutip dari IT Proportal, Jumat (4/6/2010). Dari hasil uji coba itu, para ilmuwan menemukan bahwa radiasi yang dihasilkan ponsel dapat menghambat kemampuan lebah untuk menavigasi tempat.

Laporan yang juga dibukukan dalam Jurnal Current Science menyatakan bahwa, peningkatan penggunaan gadget elektronik telah menyebabkan Electropollution Environment. Yakni sebuah polusi yang dihasilkan oleh perangkat elektronik, misalnya ponsel.

Hal tersebut jelas sangat menggangu lebah, pasalnya perilaku hewan ini dipengaruhi oleh electrosmog. Dan polusi yang dihasilkan ponsel, berpotensi untuk menggangu navigasi kawanan lebah madu.

Mungkin saat ini hal itu hanya terjadi pada lebah, tapi tidak menutup kemungkinanan bahwa radiasi ponsel juga akan memiliki dampak buruk bagi bagi manusia.

Jumat, 30 Juli 2010

Payung Pantai Tidak Efektif Tangkal Radiasi Ultraviolet Matahari


Apakah anda termasuk orang gemar berlibur ke pantai? jika iya, mungkin ada baiknya anda membaca artikel ini terlebih dahulu. Berlindung di bawah payung pantai agar terhindar dari sengatan matahari, ternyata tidak cukup efektif. Hasil penelitian menunjukkan, meskipun berlindung di bawah payung, radiasi ultraviolet masih bisa menembus kulit hingga 34 persen.

Sinar ultraviolet atau UV yang dipancarkan matahari dapat menyebabkan kerusakan pada kulit dan sel DNA. Hal ini bisa memicu kanker kulit, seperti melanoma. Menurut peneliti, payung dapat menyerap sebagian besar sinar matahari yang turun, namun radiasi masih bisa lewat dari samping.

Penelitian ini dilakukan dengan memposisikan sensor sinar ultraviolet di bagian bawah kanvas payung berwarna biru dan putih. Radiusnya yaitu 31.5 inci atau sekitar 80 sentimeter dan tingginya 4,9 kaki atau sekitar 1,5 meter.

"Payung memang memotong langsung radiasi matahari, tetapi bagian dari radiasi tersebar, yang membuat sampai sekitar 60 persenya menyentuh sensor," kata José Antonio Martínez-Lozano, dari University of Valencia di Spanyol, seperti dikutip dari Live Science. Jadi sebaiknya kita pakai juga lotion anti UV meskipun kita sudah berlindung di bawah payung pantai.

Kamis, 08 Juli 2010

Sinyal Wi-Fi Beri Dampak Negatif Terhadap Tubuh Kita



Dunia sudah semakin maju dan perkembangan teknologi juga semakin pesat, termasuk perkembangan yang terjadi dalam dunia maya. Siapa sekarang yang tidak lagi kenal dengan fasilitas internet berupa Wi-fi (wireless fidelity) yang lebih dikenal sebagai jaringan lokal nirkabel semakin populer terutama di negara-negara maju dan berkembang. Dengan wi-fi orang bisa masuk ke jaringan internet tanpa harus repot menyambungkan kabel dari komputer ke line telepon.

Memang enak ya kalau kita berada di lingkungan yang ada wi-fi nya(seperti sekolah saya). Tapi selidik punya selidik siyal wi-fi berpengaruh juga terhadap tubuh kita. Mau tahu?

Di balik kemudahan yang ditawarkan wi-fi, ada beberapa keyakinan publik yang menganggap wi-fi berdampak negatif terhadap kesehatan. Mereka yang tidak setuju dengan kehadiran wi-fi beralasan radiasi elektro magnetik dari wi-fi bisa menyebabkan nyeri di kepala, gangguan tidur dan mual-mual, terutama bagi mereka yang electrosensitive. Tapi benarkah wi-fi berbahaya bagi kesehatan?

Ketakutan akan dampak buruk wi-fi terhadap kesehatan ini dimentahkan ilmuwan Inggris. Seperti yang diungkapkan Sir William Stewart, ketua Health Protection Agency, mengatakan pada BBC Programme Panorama, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan teknologi wi-fi. Tak ada bukti pasti yang menyebutkan, perangkat seperti ponsel dan wi-fi menyebabkan kesehatan terganggu.

Hal senada juga diungkapkan Professor Lawrie Challis, dari Nottingham University. Dalam pernyataannya pada BBC, Senin (21/05), Prof Challis, yang menjabat sebagai ketua Mobile Telecommunications and Health Research (MTHR) menyebutkan: "Radiasi elektro magnetik dari Wi-fi sangat kecil, pemancarnya juga berkekuatan rendah, selain itu masih ada jarak dengan tubuh.

"Bisa jadi radiasi elektro magnetik sangat dekat dengan tubuh, ketika kita memangku laptop, namun dalam pengamaatan saya setiap orang tua akan meminta anak mereka untuk tidak terlalu sering menggunakan ponsel mereka dan selalu meminta mereka untuk menaruhlaptop di atas meja, bukan di pangkuan, jika mereka berinternet terlalu lama."

Untuk mendukung pernyataan ini, tim Panorama BBC mengunjungi sebuah sekolah di Norwich, yang memiliki seribu siswa, dan mencoba membandingkan tingkat radiasi dari ponsel dan penggunaan wi-fi di dalam kelas. Hasilnya menunjukkan radiasi wi-fi di ruang kelas tiga kali lebih besar dibanding pancaran yang dikeluarkan ponsel.

Namun ahli kesehatan psikis Professor Malcolm Sperrin mengatakan sinyal wi-fi yang lebih besar tiga kali lipat dibanding radiasi ponsel di suatu sekolah masih belum relevan, karena belum ditemukan pengaruhnya terhadap kesehatan.

"Wi-fi adalah teknologi yang menggunakan gelombang radio elektro magnetik rendah, yang sebanding dengan oven microwave, bahkan 100 ribu kali lebih rendah dari microwave."

Tipe radiasi yang dipancarkan gelombang radio (wi-fi), microwaves, dan ponsel telah menunjukkan kenaikan level temperatur jaringan yang sangat tinggi, yang biasa disebut thermal interaction, namun masih belum ada bukti level tersebut menyebabkan kerusakan.

Health Protection Agency menyebutkan duduk di ruangan yang memiliki hotspot selama setahun sebanding dengan gelombang radio yang dipancarkan saat bercakap-cakap dengan ponsel selama dua puluh menit.

"Gelombang radio sudah menjadi bagian dari kehidupan kita selama hampir seabad atau lebih, namun jika ada gangguan yang signifikan terhadap kesehatan, pasti ada kajian yang akan mencatatnya, dan selama ini berbagai studi masih belum menemukan bukti transmisi wi-fi bagi kesehatan.

Hal senada juga didukung Professor Will J Stewart, rekan dari Royal Academy of Engineering, yang mengatakan: "Ilmu pengetahunan telah mempelajari pengaruh ponsel bagi kesehatan selama bertahun-tahun dan kekhawatiran akan dampak radiasi ponsel masih sangat kecil.

"Begitu juga dengan wi-fi, jika digunakan dalam batas yang wajar tak akan ada pengaruhnya bagi kesehatan dalam waktu yang lama. Namun bukan berarti semua radiasi elektro magnetik tak berbahaya, misalnya sinar matahari yang terbukti menyebabkan kanker kulit, jadi jika Anda menggunakanlaptop saat berjemur di pantai, ada baiknya mencari tempat yang teduh," tambah Sperrin yang mengatakan sampai saat masih belum ada banyak bukti yang cukup berarrti akan dampak negatif wi-fi.

Namun yang lebih dikhawatirkan Sperrin bukan pada gelombang wi-fi, namun pada perilaku dalam penggunaan laptop, dan panas yang dihasilkan laptop pada beberapa bagian sensitif pada tubuh, yang berdampak pada kesehatan.

Jadi kita harus bijak dalam memanfaatkan sesuatu dan tidak berlebihan dalam penggunaan nya, sehingga akan tetap aman bagi kesehatan tubuh kita.