Tampilkan postingan dengan label paus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Juli 2010

Rahasia Kekuatan Rahang ikan Paus

paus
Ikan Paus merupakan jenis ikan yang terbesar yang hidup di lautan. Untuk menangkap makanan, se ekor ikan paus bungkuk menyelam dengan kecepatan tinggi dengan mulut terbuka untuk menelan sejumlah besar air penuh dengan mangsa.

Sekarang ilmuwan telah mendeteksi adaptasi tulang unik yang memungkinkan paus melakukan hal ini tanpa terluka. Penelitian melibatkan paus rorqual, keluarga spesies yang mencakup paus bungkuk dan ikan paus biru, binatang terbesar di bumi.

Makhluk ini memangsa ikan kecil dan udang krill dengan cara menghisap di dalam air saat menyelam jauh di dalam laut. Paus memiliki jaringan elastis khusus yang melekat pada rahang yang disebut lemak alur ventral. Ketika mereka merendahkan rahangnya ke sudut ekstrim dan berenang sangat cepat, kekuatan tarik pada lapisan lemak ini bisa memperluas cakupan volume yang bisa ditangkap ikan paus itu.

Cara ini memungkinkan ikan paus rorqual mendapat cukup makanan dalam beberapa jam yang bisa mmenuhi kebutuhan dalam sehari. Namun cara makan seperti itu memerlukan usaha keras. Tekanan ekstrim dari air menarik lapisan lemak dan menjadi tarikan sangat kuat pada rahang paus disebut mandibula. Para ilmuwan kini yakin bagaimana mandibula dapat menahan beban tersebut.

"Kami tertarik untuk mengetahui apakah memiliki desain mekanik khusus yang memungkinkan tidak istirahat selama tekanan," kata Daniel J Field mahasiswa zoologi University of British Columbia di Vancouver, Kanada.

"Fakta bahwa mereka dapat menahan kekuatan raksasa tersebut benar-benar luar biasa." Field bekerja dengan atasannya Robert Shadwick dan peneliti lainnya untuk mengukur tulang rahang bawah paus. Tim ini menggunakan proses scanning sinar X untuk menghitung geometri tulang rahang secara tiga-dimensi dan distribusi kepadatannya.

Para ilmuwan menemukan bahwa rahang ikan paus terbentuk dengan cara yang unik, berbeda dengan rahang manusia. Secara khusus, para ilmuwan mengukur fitur yang disebut kekakuan lentur, kombinasi dari kepadatan tulang yang tinggi dan luas penampang besar yang memungkinkan tulang menahan lentur.

Para peneliti menemukan bahwa rahang paus terbentuk dengan pola kekakuan lentur unik. Tertinggi ada di pinggiran melekat pada tengkorak, dan terendah di pusat yang dioptimalkan untuk melawan tekanan saat menyergap makanan.

Sungguh luar biasa bukan, ternyata setiap makhluk diciptakan oleh tuhan dengan membawa keunikan sendiri-sendiri.

Kamis, 22 Juli 2010

Ikan Paus 40 Ton Hantam Perahu Layar


Ralph Mothes dan Paloma Wener dari Akademi Layar Cape Town di Afrika Selatan sudah kawakan dalam hal ekspedisi di lautan lepas, namun mereka terkesima ketika ikan paus seberat 40 ton menimpa perahu layar mereka.

Kedua orang tersebut telah bekerja selama lima tahun di perairan Afrika Selatan. Mereka telah menyaksikan beragam makhluk raksasa dari jauh dalam banyak ekspedisi pelayaran mereka. Demikian seperti dilaporkan London Daily Telegraph, Kamis (21/7).

Tetapi awal pekan ini mereka mendapat pengalaman luar biasa ketika berhadapan dengan satwa liar raksasa samudra.

Saat mereka sedang berlayar di lepas pantai Cape Town tersebut, pasangan itu melihat ikan paus raksasa "menghentakkan ekornya ke air" sekitar 300 kaki dari perahu mereka. Lalu hewan mamalia laut tersebut menghilang ke dalam laut.

Tetapi ikan paus itu muncul lagi dalam jarak yang lebih dekat, sekitar 70 kaki dari mereka, lalu menyelam lagi, tulis London Daily Telegraph.

Mereka saat itu sedang melakukan pelayaran rutin di dekat Robben Island, ketika ikan paus dengan bobot sekitar 40 ton melompat dari dalam laut dan mendarat di geladak perahu mereka, tulis surat kabar tersebut, sebagaimana dilaporkan di jejaring pencari Yahoo.com dengan alamat http://news.yahoo.com/.

"Sungguh mempesona tapi juga menakutkan," kata Werner.

Karena menduga ikan paus itu akan menyelam ke bawah perahu, Mothes memberi tahu Wener agar menggeser perahu mereka ke sisi lain supaya mereka dapat melihat hewan raksasa tersebut muncul lagi dari air.

Suara berikut yang Mothes dengar ialah, "Oh, ...!" "Lalu saya cuma melihat ikan paus yang sangat besar menghantam perahu layar kami," katanya.

Mothes berlindung di balik kemudi, dan Werner selamat dengan berlindung di bawah bangunan di perahu. Beberapa wisatawan yang sedang berlayar di dekat kedua orang itu mengambil gambar peristiwa tersebut, kata surat kabar itu.

Menurut London Daily Telegraph kedua orang itu beruntung sebab mereka selamat dalam peristiwa tersebut, demikian juga dengan ikan paus itu.

Mereka terkejut, tapi tidak cedera, dan mulai melihat berkeliling untuk memperkirakan kerusakan pada perahu mereka, sementara ikan paus tersebut pergi.

Mereka beruntung sebab perahu mereka terbuat dari logam, sehingga cukup kuat untuk menahan benturan dengan ikan paus. Hanya tiang dan batang layar yang rusak.

Rabu, 21 Juli 2010

Mitos Hewan penguasa Lautan, Kraken

Anda pasti pernah mendengar nama dari hewan yang disebut sebagai penguasa lautan pada berbagai film fiksi, dialah kraken. Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam dibawah lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah.

Kata Kraken sendiri berasal dari Kata "Krake" dari bahasa Skandinavia yang artinya merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa jerman modern untuk merujuk kepada Gurita.

Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia sering disinggung di dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean atau Clash of The Titans. Jika ada makhluk raksasa penguasa lautan, maka Krakenlah namanya.

Karakter Kraken
Kita mungkin mengira Kraken hanyalah sebuah bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam buku Systema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735.

Mr. Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus. Jadi, boleh dibilang kalau Kraken memiliki tempat di dalam sains modern.

Erik Ludvigsen Pontopiddan, Uskup Bergen yang juga seorang naturalis, pernah menulis di dalam bukunya Natural History of Norway yang terbit tahun 1752 kalau Kraken "tidak bisa disangkal, adalah monster laut terbesar yang pernah dikenal".

Menurut Pontopiddan, Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau yang terapung dan memiliki tentakel seperti bintang laut. Ia juga menyebutkan kalau makhluk ini bisa menggulung kapal yang lewat dengan tentakelnya dan menariknya ke dasar lautan. Namun, menurut Pontopiddan, bahaya terutama dari Kraken adalah riak air yang dashyat ketika ia menyelam ke dalam laut. Riak itu bisa menenggelamkan kapal yang ada di dekatnya.

Menariknya, selain menggambarkan Kraken sebagai makhluk yang berbahaya, Pontopiddan juga menulis mengenai sisi lain dari makhluk misterius ini. Ia menyebutkan kalau ikan-ikan di laut suka berada di dekat Kraken. Karena itu juga, para nelayan Norwegia yang mengetahui hal ini suka mengambil risiko untuk menangkap ikan dengan membawa kapalnya hingga berada tepat di atas Kraken.

Jika mereka pulang dengan membawa hasil tangkapan yang banyak, para penduduk desa tahu kalau para nelayan tersebut pastilah telah menangkap ikan tepat di atas Kraken.

Sejak lama, makhluk ini hanya dianggap sebagai bagian dari Mitologi kuno yang setara dengan sebuah dongeng. Namun ketika sisa-sisa bangkai monster ini terdampar di pantai Albaek, Denmark, Pada tahun 1853, para ilmuwan mulai menyadari kalau legenda mengenai Kraken mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata, yaitu cumi-cumi raksasa (Giant Squid), cumi-cumi kolosal (Colossal Squid) atau Gurita raksasa (Giant Octopus).

Seberapa besarkan seekor cumi atau gurita bisa bertumbuh?

Benarkan mereka bisa menyerang sebuah kapal besar seperti yang digambarkan di film-film?

Penampakan Signifikan
Pada tahun 1801, Pierre Denys de Montfort yang menyelidiki subjek mengenai Kraken menemukan kalau di Kapel St.Thomas di St.Malo, Brittany, Perancis, ada sebuah lukisan yang menggambarkan seekor gurita raksasa sedang menyerang sebuah kapal dengan cara menggulungnya dengan tentakelnya. Insiden yang tergambar dalam lukisan tersebut ternyata berdasarkan pada peristiwa nyata.

Dikisahkan kalau kapal tersebut adalah kapal Norwegia yang sedang berada di lepas pantai Angola. Ketika mendapatkan serangan tak terduga tersebut, para pelaut di atas kapal lalu membuat sebuah kaul untuk St.Thomas yaitu jika mereka dapat terlepas dari bahaya ini, mereka akan melakukan perjalanan ziarah.

Para awak kapal kemudian mengambil kapak dan mulai melawan monster itu dengan memotong tentakel-tentakelnya. Monster itupun pergi. Sebagai pemenuhan atas kaul itu, para awak kemudian mengunjungi Kapel St.Thomas di Britanny dan menggantung lukisan itu sebagai ilustrasi atas peristiwa yang menimpa mereka.

Sayangnya, peristiwa yang menimpa para pelaut itu tidak diketahui persis tahun terjadinya. Namun, paling tidak, penyerangan monster raksasa terhadap sebuah kapal tidak bisa dibilang sebagai mitos semata.

Selain kisah lukisan di Kapel St.Thomas, Mr.Monfort juga menceritakan perjumpaan lain dengan makhluk serupa cumi atau gurita raksasa yang dialami oleh kapten Jean-Magnus Dens dari Denmark yang bertemu dengan makhluk itu juga di lepas pantai Angola. Makhluk raksasa itu menyerang kapal mereka dan bahkan berhasil membunuh tiga awaknya.

Para awak kapal yang lain tidak tinggal diam dan segera mengambil meriam dan menembakkannya ke monster itu berulang-ulang hingga ia menghilang ke dalam lautan.

Kapten Dens memperkirakan monster itu memiliki panjang 11 meter.

Kisah lain terjadi pada tanggal 30 November 1861. Ketika sedang berlayar di kepulauan Canary, para awak kapal Perancis, Alencton, menyaksikan seekor monster laut raksasa berenang tidak jauh dari kapal. Para pelaut segera menyiapkan peluru dan mortir yang kemudian ditembakkannya ke arah monster itu.

Monster yang ketakutan dengan segera berenang menjauh. Namun, kapal Alencton segera diarahkan untuk mengejarnya. Ketika mereka berhasil mendekatinya, garpu-garpu besi segera dihujamkan ke tubuh monster itu dan jaring segera dilemparkan. Ketika para awak mengangkat jaring itu, tubuh monster itu patah dan hancur yang kemudian segera jatuh ke dalam air dengan menyisakan hanya sebagian dari tentakelnya.

Ketika kapal itu mendarat dan tentakel itu diperlihatkan kepada komunitas ilmuwan, mereka sepakat kalau para awak kapal mungkin telah menyaksikan seekor cumi raksasa dengan panjang sekitar 8 meter.

Pada bulan Oktober 1873, seorang nelayan bernama Theophile Piccot dan anaknya berhasil menemukan tentakel cumi raksasa di Newfoundland. Setelah diukur, para peneliti menyimpulkan kalau hewan itu kemungkinan memiliki panjang hingga 11 meter.

Pada tahun 1924, Frank T.Bullen menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Cruise of the Chacalot. Dalam buku ini, Bullen menceritakan sebuah kisah luar biasa yang disebut terjadi pada tahun 1875. Kisah ini membuat Kraken mendapatkan musuh abadinya, yaitu Paus Penyembur (Sperm Whale).

Menurut Bullen, pada tahun 1875 ia sedang berada di sebuah kapal yang sedang berlayar di selat Malaka. Ketika malam bulan purnama, ia melihat ada sebuah riakan besar di air.
"Ada gerakan besar di dalam laut saat purnama. Aku meraih teropong malam yang selalu siap di gantungannya. Aku melihat seekor paus penyembur besar sedang terlibat perang hebat dengan seekor cumi-cumi yang memiliki tubuh hampir sebesar paus itu. Kepala paus itu terlihat lincah seperti tangan saja layaknya. Paus itu terlihat sedang menggigit tentakel cumi itu dengan sistematis. Di samping kepalanya yang hitam, juga terlihat kepala cumi yang besar. Mengerikan, aku tidak pernah membayangkan ada cumi dengan kepala sebesar itu."
Mendengar kesaksian Bullen, kita mungkin tergoda untuk mengatakan kalau ia membesar-besarkan atau mungkin mengarangnya saja. Namun, pada Oktober 2009, komunitas ilmuwan menyadari kalau kisah yang diceritakan Bullen mungkin memang bukan sekedar cerita fiksi. Cumi raksasa memang bermusuhan dengan Paus Penyembur.

Di wilayah perairan di pulau Bonin di Jepang, para peneliti kelautan berhasil mendapatkan foto-foto langka yang memperlihatkan seekor paus penyembur sedang menyantap seekor cumi raksasa yang diperkirakan memiliki panjang 9 meter.

Jadi sebenarnya kraken adalah sebuah cumi raksasa yang tumbuh lebih besar dari ukuran cumi-cumi pada umumnya, bukan seperti yang tergambar pada berbagai film dengan ukuran yang sangat luar biasa besarnya.