Tampilkan postingan dengan label reptil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reptil. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 September 2010

Evolusi Kadal Australia, Berkembang Biak Dengan Melahirkan


Entah apa yang terjadi pada hewan jenis kadal ini. Ilmuwan menangkap fenomena evolusi langka di mana kadal Australia tidak lagi bertelur sebagaimana mestinya, melainkan melahirkan anak-anaknya.

Kadal sejenis Skink, mirip ular dengan empat kaki kecil, biasanya bertelur di sepanjang pantai New South Wales.

Namun, kadal kuning berkuku tiga yang hidup di daerah pegunungan dingin melahirkan keturunan seperti mamalia.

Hanya ada dua jenis reptil modern yang menggunakan kedua jenis metode reproduksi yakni Skink spesies lain dan kadal Eropa.

Seperlima jumlah ular dan kadal melahirkan untuk menghadirkan organisme baru. Sejarah menunjukkan hampir seratus jumlah garis keturunan reptil telah berubah dari bertelur menjadi melahirkan di masa lalu.

Salah satu penulis studi James Stewart, ahli biologi di East Tennessee State University, Amerika mengatakan bahwa penemuan itu merupakan kesempatan langka.

"Dengan mempelajari perbedaan antara populasi yang berbeda dalam tahapan proses ini, Anda bisa mulai mengumpulkan apa yang tampak seperti transisi dari satu gaya kelahiran ke proses yang berbeda,” kata James.

Stewart mengatakan transformasi dapat dikaitkan dengan bagaimana bayi mendapatkan makanan. Tidak hanya itu, ini bisa menjadi cara untuk melindungi reptil muda di iklim yang lebih keras. Bayi mamalia makan melalui plasenta yang menghubungkan janin ke dinding ovarium.

Penemuan Stewart dan rekan-rekannya ini untuk menyelidiki masalah gizi dalam struktur dan unsur kimia pada uterus kadal Australia.

“Sekarang kita dapat melihat bahwa rahim kadal dapat mengeluarkan kalsium yang dimasukkan ke embrio. Ini pada dasarnya merupakan tahap awal evolusi plasenta pada reptil.”

Meskipun begitu, menurut Stewart, perubahan proses kelahiran pada reptil merupakan hal yang biasa, mengingat dalam sejarah evolusi ini cukup umum dan relatif mudah. Mungkin hal tersebut masih terasa sangat janggal bagi kita, bagaimana mungkin se ekor kadal melahirkan dimana seharusnya binatang mamalia berkembang biak dengan melahirkan.

Senin, 23 Agustus 2010

Rahasia Gigitan Reptil Komodo Yang Mematikan


Nama komodo pasti sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Hewan asli indonesia yang berasal dari pulau komodo ini ternyata merupakan reptil berbisa paling ganas di dunia dengan virus-virus yang dapat melumpuhkan mangsa dengan sangat cepat. Terbukti dari beberapa kasus penyerangan yang terjadi akhir-akhir ini.

Sebuah studi baru telah menunjukkan bahwa Komodo (Varamus komodoensis) yang hidup di Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, merupakan reptil berbisa paling mematikan di dunia saat ini.

Rahasia kemampuan membunuh mangsa dari hewan reptil Komodo ternyata terletak pada kombinasi kekuatan gigitannya dan racun berbisa yang dikeluarkan ribuan kelenjar-kelenjar yang terletak digusinya, yang dikeluarkan bersamaan dengan gigitan.

Temuan ini mematahkan teori sebelumnya yang mengatakan bahwa kemampuan membunuh mangsa dari Komodo terletak pada air liurnya yang mengandung puluhan bakteria mematikan, yang dikeluarkan bersamaan dengan gigitan.

Teori ini didasarkan pengamatan bahwa mangsa Komodo biasanya mati setelah beberapa jam mendapat gigitan yang berdarah, dan kemudian akan mati membusuk.

Tak adanya taring yang kuat pada gigi Komodo, juga menunjukkan Komodo tak sepenuhnya binatang pemangsa Carnivora, sehingga sejak lama menjadi penelitian apa rahasia Komodo mematahkan mangsanya. Namun kini dengan teori diatas, sedikitnya tersedia sebuah jawaban rahasia kekuatan mematikan dari Komodo.


Seorang peneliti yaitu Dr Bryan Fry dari Universitas Melbourne, Australia, yang menemukan teori ini, melakukan penelitian dengan menggunakan foto medis atau rontgen pada jaringan kepala Komodo.

Ia menemukan adanya ribuan kelenjar kompleks yang berujung diantara deretan gigi-giginya, yang mempunyai kemampuan mengeluarkan bisa beracun yang mematikan.

“Reptil ini biasanya menggigit mangsanya, dan kemudian meninggalkan mangsa yang berdarah hingga mati akibat luka yang mematikan. Kami sekarang tahu bahwa itu disebabkan oleh kombinasi kekuatan gigi dan kelenjar berbisa yang mematikan mangsa,” ujar Dr Fry.

“Kombinasi gigitan dan bisa racun ini membuat Komodo sedikit melakukan kontak dengan mangsanya, ia cukup melukai dan menyeburkan racun, kemudian meninggalkannya. Membuat Komodo bisa menangkap mangsa yang lebih besar, tanpa harus lama bertempur yang juga akan berbahaya bagi dirinya,” ujar Dr Fry.

Dr Fry kemudian juga melakukan analisa dengan menggunakan simulasi komputer, untuk mengukur tingkat ketajaman mematikan dari gigitan Komodo dibandingkan dengan gigitan binatang Carnivora lain seperti Buaya. Ternyata gigitan Komodo jauh lebih lemah dibandingkan dengan kemampuan gigitan Buaya.

Dari sini timbul hipotesa tak mungkin Komodo mematikan mangsanya hanya mengandalkan pada gigitan, seperti umumnya Carnivora lain. Dari uji resonansi magnetik diperoleh gambaran adanya kelenjar komplek diantara gigi-gigi Komodo yang mengasilkan cairan bisa beracun, yang ditinggalkan bersama gigitan Komodo. “Kami percaya hewan reptil jenis Komodo mampu melumpuhkan mangsanya dengan bisa beracun yang meningkatkan kerusakan akibat gigitan gigi,” ujar Dr Fry.

Para peneliti kini sedang meneruskan risetnya untuk mengetahui kandungan dan komposisi molekul bisa beracun yang dikeluarkan kelenjar Komodo. Efek dari bisa beracun juga diuji oleh para peneliti, yang menampakkan kesamaan pengaruh dengan bisa beracun yang dikeluarkan oleh kelompok ular, yang biasanya membuat shock mangsa.

Hal ini bisa menerangkan kenapa mangsa Komodo biasanya menjadi diam saja setelah mendapatkan gigitan, karena menahan sakit akibat pengaruh bisa. Setelah digigit, mangsa biasanya juga mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya.

Para peneliti kemudian juga memeriksa kerangka fosil hewan reptil Komodo yang termasuk binatang purbakala ini, dan menemukan ciri-ciri kerangka binatang yang menggunakan bisa beracun untuk melumpuhkan mangsanya.

Penelitian ini kemudian menyimpulkan bahwa kadal raksasa sepanjang 7 meter ini adalah binatang berbisa terbesar yang pernah hidup di muka bumi.

Berhati -hatilah jika Anda berada dekat dengan Reptil yang satu ini, karena bisa jadi Anda menjadi sasaran keganasannya karena jika tergigit, dipastikan korbannya tidak akan bertahan lama karena virusnya yang mematikan.

Ada baiknya anda menghindar saja jika bertemu hewan reptil yang bernama komodo, demi keselamatan anda.

Senin, 09 Agustus 2010

Ditemukan Fosil Reptil Prpaduan Kucing dan Buaya


Apakah makhluk ini masuk golongan jenis reptil ataukah mamalia, hal itu masih menjadi pertanyaan para peneliti. Peneliti menemukan makhluk aneh bergigi mirip mamalia dan kaki kurus seperti reptil. Makhluk itu hidup di dataran Afrika memburu capung dan serangga lain.

Fosil dari spesies baru ini digali dari batu berusia 105 juta tahun oleh paleontolog di sungai Tanzania.

Mereka dapat mengetahui detil gambar giginya yang aneh dengan akurat menggunakan pemindai medis. Profesor Patrick O’Connor dari Ohio University mengatakan,”Pada pandangan pertama, buaya ini berusaha menjadi mamalia. Kepalanya sebesar kepalan tangan. Jika melihat giginya, Anda akan berpikir bahwa binatang ini adalah buaya,”

Profesor Patrick mengatakan bahwa binatang ini tidak memiliki pelindung yang kuat seperti buaya lainya kecuali ekornya.

Hal ini menjelaskan bahwa makhluk ini cukup mobile dan mungkin aktif tidak seperti buaya biasanya.

Aspek lain dari anatominya menyatakan bahwa binatang ini merupakan makhluk darat yang senang memakan serangga dan binatang kecil, untuk bertahan hidup.

Para peneliti menjulukinya Pakasuchus Kapilimai. Paka adalah bahasa Swahili dari kucing, di mana menyerupai ukuran binatang ini, tengkoraknya, giginya. Sedangkan souchos adalah bahasa Yunani kuno dari buaya.

Prof O’Connor yang menerbitkan temuan ini di Nature mengatakan,”Saat kami meneliti giginya, kami tahu kami menemukan hal baru dan sangat menarik.”

Apakah penelitian ini nantinya juga akan dikaitkan dengan teori evolusi darwin yang sudah runtuh, ataukah fosil tersebut memang fosil asli mahkluk yang belum pernah itemukan dan bukan merupakan sebuah hasil evolusi?