Tampilkan postingan dengan label iq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iq. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2012

Emmelyn Roettger Gadis Kecil Jenius Yang Menjadi Anggota Mensa Di Usia 3 tahun

bintangkarang.blogspot.com
Seorang gadis kecil yang baru berusia 3 tahun telah dinobatkan sebagai salah satu anggota Mensa yang paling muda dengan IQ 135. Gadis kecil yang jenius tersebut bernama Emmelyn Roettger. Gadis kecil jenius tersebut merupakan seorang gadis yang senang mengeja, menulis dan berhitung. Mensa sendiri merupakan sebuah perkumpulan internasional yang anggotanya merupakan orang-orang jenius dengan IQ diatas rata-rata, diaman salah satu anggotanya adalah penemu teori relativitas yaitu Albert Einstain dengan IQ 160.

Kecerdasan gadis kecil tersebut sempat membuat dokter dan keluarganya mengira bahwa gadis kecil tersebut mengidap autis, diakrenakan gadis tersebut tidak menyukai mainan sebagaimana yang biasanya terjadi pada anak-anak seusianya. Emmelyn Roettger sejak kecil telah mengalami gangguan pada bagian matanya sehingga pada usia 10 bulan gadis jenius tersebut terpaksa harus memakai kacamata.

Sang ibu mengatakan bahwa sejak menggunakan kacamata tersebut Emmelyn Roettger mulai aktif. Jadi bisa disimpulkan bahwa gadis jenius tersebut mengalami keterlambatan karena gangguan pada matanya. Sejak saat itu kecerdasan Emmelyn Roettger seolah menjadi tidak terbendung lagi. Pada usia yang masih balita gadis kecil tersebut mulai belajar matematika dan mulai menunjukan kercedasan verbalnya.

Orang tua dari gadis jenius tersebut kermudian membawanya ke Wechsler Preschool untuk menlakukan tes Primary Scale of Intelligence yang menguji tingkat kecerdasan anak-anak yang masih berada pada usia pra-sekolah dan ternyata hasil tesersebut  amat mengejutkan, yaitu 99%.

Orang tua dari Emmelyn Roettger kemudian mengajak gadis kecil tersebut mencoba beberapa game yang ada pada situs Mensa for Kids, yaitu organisasi khusus untuk anak-anak yang memiliki kercedasan tinggi. Ternyata Emmelyn Roettger tidaklah sendirian karena pada bulan sebelumnya ada Heidi Hankins yang masih berusia 4 tahun yang juga bergabung dalam situs Mensa for Kids.

Jumat, 16 Juli 2010

William James Sidis, Manusia Dengan IQ Tertinggi

Namanya mungkin kurang terkenal dan masih terasa asing di telinga kita. Jika kita mendapat pertanyaan siapakah manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia? Da Vinci? John Stuart Mills? Atau Albert Einstein seperti yang selama ini diperkirakan orang? Ketiganya memang dianggap jenius-jenius besar yang telah memberikan banyak pengaruh terhadap bidangnya masing-masing. Tapi gelar manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia rasanya tetap layak diberikan kepada William James Sidis. Siapakah ia? Mengapa namanya tenggelam dan kurang dikenal walau angka IQnya mencapai kisaran 250–-300.

Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar : menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda. Harvardpun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.

Lebih dasyat lagi : Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari !!!! Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun – sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Ironis. Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis memang sempat mengatakan kepada pers bahwa ia membenci matematika – sesuatu yang selama ini telah melambungkan namanya. Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit memiliki teman. Bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak juga pernah memiliki seorang pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang terlambat.

Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis tidak kuasa. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja.