Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 September 2009

Pesan Tersembunyi Di Balik Logo Coca cola

Siapa yang tidak kenal dengan salah satu merk minuman ringan terbesar di dunia yang satu ini, dialah Coca-cola The Coca Cola Company dan produk-produknya banyak menuai kritik oleh berbagai sumber atas bermacam-macam alasan termasuk efek negatif produk-produk tersebut terhadap kesehatan, lingkungan, penggunaan pestisida dalam jumlah yang besar dalam produk-produknya, praktek eksploitasi buruh dan masih banyak alasan lagi. Tidak sedikit dari alasan-alasan tersebut yang membawa perusahaan tersebut menghadapi tuntutan hukum dan menciptakan kontroversi.

Satu kontroversi lagi terdapat pada logo produk Coca Cola. Bacalah logo tersebut dalam cermin atau terbalik, dalam tulisan Arab, apa yang anda dapat? Sumber dari sebuah kampanye di Mesir menuduh minuman ringan terbesar tersebut atas menyinggung Islam karena logo yang terkenal tersebut terlihat mengatakan: “No to Mohamed. No to Mecca” (Tidak untuk Muhammad. Tidak untuk Mekkah).

Pejabat lokal Coca-Cola mengatakan bahwa kampanye tersebut bermula dari internet pada Januari. Pada bulan lalu, banyak selebaran didistribusikan di masjid-masjid dan sekolah-sekolah, mengajak para pelanggan untuk memboikot minuman ringan tersebut atas dasar bahwa minuman tersebut menghancurkan agama mereka.

Maulana Kalbe Jawwad, seorang kepala keagamaan Shias, mengatakan: “Hal ini merupakan penghinaan terhadap Tuhan. Kami akan meminta Muslim di negara ini dan seluruh dunia untuk memboikot produk tersebut sampai perusahaan tersebut menarik kata-kata yang menyinggung tersebut.

Maulana mengatakan bahwa ia akan meminta semua praktisi Muslim untuk menyebarkan pesan tentangn logo “yang sangat menyinggung tersebut”.

Menguatkan pendirian Maulana, S.R. Azmi Nadvi, sarjana Bahasa Arab dan kepala sekolah dari Nadwa College yang terkenal di Lucknow, mengatakan bahwa kata-kata tersebut “berlawanan dengan agama kita”. “Saya telah melihatnya (logo tersebut) dan saya yakin bahwa logo tersebut emncemarkan yang dianggap suci,” ia menambahkan.

Ia mengatakan masalah tersebut sekarang akan dibawa kepada Dewan Hukum Personal Muslim dan Liga Dunia Arab Islam di Mekkah.

Selama lebih dari beberapa hari, logo Coca-Cola tersebut telah menjadi buah bibir seluruh kota. Botol-botol diperiksa dengan seksama seperti belum pernah melihat botol tersebut sebelumnya. Tetapi sekarang Coca-Cola, yang mengatakan bahwa “minuman tersebut dinikmati oleh lebih dari satu milyar Muslim”, melawan balik. Digelisahkan oleh kemungkinan perlawanan balik dari yang dirasa menghina, minuman tersebut berunding dengan satu dari tokoh-tokoh keagamaan yang paling senior Mesir, Sheikh Nasser Farid Wassel, yang menempatkan logo berumur 114 tahun tersebut sebelum sebuah panel para ahli keagamaan.

“Merek dagang tersebut tidak dirubah sejak logo tersebut didesain sampai sekarang,” datanglah balasannya. “Logo tersebut ditulis dalam bahasa asing dan tidak dalam bahasa Arab, dan hal ini membuktikan bahwa merek dagang tersebut tidak melukai Islam atau umat Muslim secara langsung ataupun tidak langsung.”

Sheikh Nasser mendesak mereka yang berada di balik rumor tersebut untuk “takut Tuhan” karena “tulisan tersebut mendesak Muslim untuk menyebarkan rumor-rumor tidak adil… tanpa mempunyai sebuah bukti legal bahwa mereka benar.” Ia menambahkan bahwa semua tanggung jawab untuk kampanye tersebut membahayakan pekerjaan dari ribuan warga Mesir yan bekerja pada perusahaan Coca-Cola lokal.

Coca-Cola telah melengkapi staf penjualannya dengan salinan dari putusan sheikh untuk menunjukkan perhatiannya kepada para pelanggan.

Tetapi manajer urusan luar perusahaan tersebut, Mahmoud Hamdy, mengatakan bahwa sejauh ini penjualan tidak terpengaruh. Ahmed Abdul Aziz, seorang pekerja konstruksi yang minum Coca-Cola dua atau tiga botol per hari, memegang botol minuman tersebut di depan cermin sebuah sepeda motor yang diparkir. “benar bahwa anda dapat melihatnya,” ia mengatakan. “Tetapi saya tidak akan menyerahkannya sekarang. Saya telah meminumnya bertahun-tahun tanpa masalah.” Dua tahun yang lalu, sebuah kampanye yang sama ditujukan terhadap Fanta, menuduhnya mengatakan “No to Allah” (Tidak pada Allah). Protes tersebut berakhir setelah beberapa minggu.

Rumor Coca-Cola bertepatan dengan sebuah kampanye yang jauh lebih serius terhadap sebuah novel oleh penulis Syria, Haidar Haidar, menyebut Feast dor Seaweed, dimana satu karakter menggambarkan Tuhan sebagai seorang “artis yang gagal”.

Walaupun buku tersebut pertama kali diterbitkan pada 1983, sebuah harian Islam memulai serangan proaktif bulan lalu, menuduh novel tersebut atas penghinaan terhadap Tuhan dan menggambarkan buku tersebut sebagai sebuah penghinaan kepada Muslim lebih buruk dari pada kekalahan Arab oleh Israel pada 1967, sebuah hal yang memalukan bahwa hanya dapat dihapus “oleh darah”.

Harian tersebut juga memberikan nama-nama dan alamat-alamat dari pejabat-pejabat Kementrian Budaya Mesir, yang mencetak ulang buku tersebut, dari apa yang banyak dilihat sebagai penghasutan untuk pembunuhan. Pada 8 Mei, siswa-siswa religius melakukan kerusuhan terhadap atas buku tersebut dalam protes terburuk selama bertahun-tahun.

Coca Cola juga merupakan salah satu produk milik Yahudi yang beberapa waktu lalu juga mendapat pemboikotan global seputar serangan Israel di Jalur Gaza yang menewaskan ribuan orang.

Kalau menurut pendapat para pembaca sendiri bagaimana?

Senin, 07 September 2009

Pantai Khusus Wanita Muslim Di Italia

Mungkin ini merupakan salah satu kabar gembira untuk umat muslim yang ada di Italia. Untuk pertama kalinya kaum Muslim di Italia akan memiliki hari libur yang secara khusus didesain untuk menandai akhir bulan suci Ramadhan. Riccione, kota yang terletak di tepi pantai Adriatic, akan menjadi kota Italia pertama yang menjadi tuan rumah bagi Muslim Italia dan asing yang ingin merayakan minggu terakhir festival Islami ini.

Stefano Giuliodori, manajer Hotel Dory, mengatakan pada Adnkronos International (AKI) bahwa hotelnya telah menjadi sangat populer di kalangan Muslim dan ingin berbuat lebih untuk memenuhi kebutuhan mereka.


“Semakin banyak keluarga Arab dan Muslim yang telah memilih kota kami dari tahun ke tahun,” ujar Giuliodori. “Mereka menyukai tempat perbelanjaannya, pantai-pantai yang khusus dipesan untuk mereka, hiburan, keramahan, dan taman-tamannya.”

“Hotel Dory adalah salah satu hotel keluarga pertama di kota ini yang menawarkan layanan istimewa didedikasikan untuk anak-anak dan untuk alasan ini kami telah memutuskan untuk menawarkan promosi khusus bagi keluarga-keluarga Arab agar para orangtua dapat menikmati liburan mereka dengan tetap menghormati Ramadhan.”


Untuk menggabungkan ketentuan dalam ajaran Islam dengan masa liburan, Giuliodori telah membuat sebuah tawaran istimewa yang cocok untuk kebutuhan kaum Muslim.

“Kami menawarkan layanan khusus: kamar dengan perlengkapan dapur yang memungkinkan keluarga untuk makan dengan tenang, kanal televisi Arab, layanan antar jemput ke Masjid Rimini terdekat, susu dan kurma di minibar setiap hari.”

Paket liburan Ramadhan yang diaplikasikan mulai tanggal 12 hingga 19 September ini telah mendapat persetujuan dari Masjid Rimini yang juga telah mempersiapkan diri menyambut kedatangan para keluarga tersebut.

“Ini adalah inisiatif yang sangat positif,” ujar juru bicara komunitas Muslim Rimini, Yahya Cavuoti. “Saya yakin ini akan membantu meningkatkan persepsi bahwa kaum Muslim adalah sebuah kehadiran yang normal di Italia karena untuk pertama kalinya mereka dapat memiliki sebuah hari libur yang sesuai Syariah.”

“Hingga kini, tampaknya kaum Muslim tidak memiliki apa pun yang mereka butuhkan untuk pergi berlibur. Kami sangat menghargai apa yang ditunjukkan oleh hotel ini yaitu sensitivitas budaya dan penghormatan terhadap ajaran Islam.”

Ini bukan pertama kalinya Riccione mempertimbangkan sebuah inisiatif untuk memenuhi kebutuhan pasar Muslim.

Dewan kota Riccione, yang terletak 150 kilometer sebelah timur Florence, mempertimbangkan untuk menyediakan pantai-pantai khusus untuk wanita hanya untuk memuaskan permintaan dari wisatawan Arab dan Muslim yang semakin meningkat. Namun sejak didiskusikan pada tahun 2006, telah ada sejumlah permintaan untuk mewujudkan inisiatif itu.

Sementara itu, Associated Press melaporkan bahwa hotel-hotel di Riccione telah siap untuk melaksanakan keputusan kota menciptakan area pantai khusus wanita untuk para wanita Muslim, dengan setidaknya satu pemilik hotel mengatakan pada hari Jumat bahwa sejumlah rencana telah dijalankan untuk membuka area tertutup yang pertama bulan depan.

Attilio Ceni, pemilik Grand Hotel des Bains, mengatakan ia berencana membuka area tertutup pertama mulai bulan September di pantai sepanjang 1000 meter persegi. Ia juga merencanakan sebuah kampanye iklan di televisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Pendukung ide tersebut mengatakan bahwa pantai yang terpisah akan memungkinkan para wanita Muslim untuk menikmati sinar matahari secara privat.
Apakah anda tertarik juga untuk dapat berkunjung ke pantai tersebut?